27 Januari, 2010

Pelajaran dari sebuah mangkuk kayu


(Terimakasih untuk kiriman naskah indah ini, kepada Dr. MA Widyastuti,SpKJ dan siapapun yang telah membagikannya)

Seorang kakek yang lemah pindah ke rumah milik anak lelakinya yang bernama John. Di rumah itu tinggal pula istri John - Mary - dan anaknya Tim yang berusia empat tahun. Tangan kakek itu senantiasa gemetaran, pandangannya sudah lamur, dan langkahnya kikuk.

Setiap malam mereka makan bersama di meja makan, namun acara yang seharusnya menyenangkan tersebut selalu terusik karena tangan sang kakek yang gemetaran dan pandangannya yang kabur. Kacang jatuh berhamburan dari sendoknya ke lantai. Bila ia hendak minum, gerakan tangannya yang kikuk membuat susu tertumpah dari gelas dan membasahi taplak meja.

John dan Mary menjadi kesal dengan kekacauan tersebut. "Kita harus melakukan sesuatu agar kejadian ini tak terulang setiap hari", kata John , "Aku bosan dengan segala keributan saat makan malam, dan makanan yang berhamburan di mana-mana". Maka diletakkanlah sebuat meja kecil di sudut ruang makan, dan makanan untuk sang kakek diletakkan di sana. Selama beberapa hari kemudian, sang kakek makan malam dengan diam di meja kecilnya, sementara John dan keluarga menikmati makan malam yang 'normal' di meja makan utama.

Karena beberapa kali sang kakek memecahkan piring atau mangkuk kaca, maka disediakanlah sebuah mangkuk kayu untuk wadah makan malamnya. Ia tetap memakan makanan itu, walau sesekali air mata menetes menuruni pipinya, terutama saat kata-kata tajam dari John atau Mary terdengar bila ia menjatuhkan sendok tanpa sengaja..

Si kecil Tim mengamati segala kejadian ini dalam diam.

Suatu malam John melihat Tim sibuk dengan pisau kecilnya. Ia berusaha mengukir potongan kayu yang ditemukannya di gudang..

"Aku sedang membuat dua buah mangkuk kayu, untukmu dan Mama di saat kalian tua nanti, seperti wadah makanan yang kalian berikan untuk Kakek", Tim menjawab dengan tenang sambil terus melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban tersebut menyentakkan John & Mary. Pandangan mereka mengabur oleh genangan air yang tiba-tiba membasahi pelupuk mata, sementara mulut mereka terkunci dan lidah terasa kelu.

Selanjutnya mereka memutuskan untuk menyingkirkan meja kecil dan mangkuk kayu dari ruang makan, dan mengajak sang kakek untuk kembali menikmati makan malam bersama seluruh anggota keluarga di meja makan utama. Makanan yang berhamburan atau tumpahan susu tidak lagi menjadi masalah, bahkan kadang menjadi bahan candaan yang menghangatkan suasana makan malam mereka.

Banyak hal bisa dipelajari dari sini:

  • Bagaimanapun hubungan kita dengan orang tua kita, kita akan merindukan mereka bila mereka sudah tiada kelak. Maka janganlah kita melewatkan kesempatan apapun yang ada untuk dinikmati bersama mereka.
  • Jika kita mengejar kebahagiaan, maka ia akan menjauh. Namun bila kita memfokuskan perhatian pada keluarga, teman, kebutuhan orang lain, dan sebagainya, serta melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan, maka kebahagiaan akan menghampiri kita.
  • Pengamatan seorang anak akan perilaku orangtuanya sehari-hari dapat terpatri dalam benaknya, dan menjadi tauladannya dengan pemahaman yang sangat naif. Marilah kita lebih berhati-hati..
  • Sentuhlah seseorang dengan cinta setiap saat...

Masih banyak lagi yang dapat dipelajari,

dan pelajaran terbesarnya adalah:

KITA DAPAT BELAJAR SETIAP SAAT DALAM HIDUP KITA,

DARI KEJADIAN APAPUN,

DARI SIAPAPUN,

DARI BENDA APAPUN..

i



Tidak ada komentar: